Temu Ramah Keluarga Besar Taman Siswa Dengan Prof.Dr.Meutia Hatta dan Prof.Dr.Sri Edi Swasono

Binjai ( Humas )

Keluarga Besar  perguruan  Taman Siswa Binjai menggelar acara temu
ramah  dengan Prof.DR.Meutia Hatta dan Prof.DR.Sri Edi  Swasono,
dihadiri  Walikota Binjai H.M.Idaham SH.MSi,  di Pendopo Perguruan
Taman Siswa Binjai Jalan Jenderal Sudirman Kelurahan Tangsi Kecamatan
Binjai Kota,Selasa (16/9) siang.

Acara diawali dengan tari persembahan tepak sirih oleh  Sendra Tari
Dewantara Perguruan Taman Siswa dilanjutkan menyanyikan lagu Mars
Taman Siswa dengan iringan musik dari Drum Band Taman Madya Perguruan
Taman Siswa Binjai.


Walikota H.M.Idaham SH.MSi  mengenang pada  tahun 1978  Ia sebagai
salah satu siswa di Taman Muda.

“Pada saat itu  masih ada Ki  Poniran dan Nyi Jum  menjadi guru saya,
“ kata Idaham.

  Pelajaran yang paling membekas  dari masa itu , menurut Idaham
yaitu pelajaran budi pekerti, bagaimana  siswa  sejak kecil diajarkan
saling menyayangi, saling menghormati  dan tidak boleh berkhianat.


Namun  pendidikan seperti  itu , pada saat ini sudah tergerus.  Para
pelajar kini    dihadapkan dengan maraknya peredaran narkoba dan seks
bebas.  Untuk mengatasi itu Muspida  Kota Binjai  sedang membuat MoU
  untuk bersama  memerangi narkoba  yang peredarannya  telah  terjadi
secara massiv dan terstruktur .  Ada narkoba paket hemat ,  dijual
dengan  harga  Rp. 15 ribu sekali pakai.  Jika persoalan ini  tidak
segera diatasi maka bangsa Indonesia akan menghadapi kehancuran.


            “Saya  yakin dengan pelajaran akhlak yang baik semua ini
dapat teratasi ,dan saya mengharapkan  peran para pamong untuk menjaga
generasi muda kita kedepan, sangat kita takuti bagaimana Indonesia
pada tahun 2045, ,apakah seperti kerajaan majapahit yang cuma berumur
satu  abad dan ini menjadi tanggung jawab kita bersama  ”ungkap Idaham
dengan  tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun pada Prof.Sri Edi
Swasono yang pada hari  itu  genap berusia 74 tahun.

Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Prof . Sri Edi
Swasono  yang juga  Dosen pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
( UI ) mengungkapkan  apa yang pernah  disampaikan  Bapak Taman
Siswa, Ki Hajar Dewantara, pada  tahun 1928 mengenai nasionalisme
“Lebih baik Indonesia tenggelam kelaut daripada menjadi embel-embel
negara lain”.


Sri Edi Swasono  menegaskan Pancasila harus menjadi ruh bangsa
Indonesia sehingga dapat menyatukan seluruh perbedaan yang ada.
Indonesia menurutnya memiliki karakter demokrasi tersendiri, yaitu
demokrasi konsensus yang mengedepankan musyawarah mufakat.

“Kita juga harus mengingat pejuang pendidikan Indonesia yakni Ki.Hajar
Dewantara sebagai penerus bangsa ,kita harus siap meneruskan
perjuangannya ,dan sekaligus bangsa Indonesia perlu mewarisi buah
pikirannya tentang pendidikan untuk kemajuan bangsa”ungkap Sri Edi.

Sedangkan Prof. DR.Meutia Hatta menekankan pentingnya peran perempuan
dalam mendidik  anak di keluarga . Anak – anak  pada masa  dulu
sangat berbeda dengan anak-anak pada jaman sekarang. Pada jaman
sekarang usia 2 tahun sudah mampu mengotak-ngatik gadget ,mereka mampu
membuka aplikasi  di dalam gadghet itu sendiri.


“Bisa-bisa mereka membuka situs  pornografi ,oleh karena  kita harus
berjuang keras menghadapi beredarnya pornografi yang bisa
menghancurkan mental anak-anak kita”urai Meutia.


Ditambahkannya  sangat penting membangun hubungan kekeluargaan yang
harmonis di dalam rumah. Anak harus mengerti tugasnya sebagai seorang
anak ,dan lebih penting lagi kepada para guru dan kepala sekolah untuk
lebih menggalakkan lagi perpustakaan di sekolah untuk menciptakan
kegiatan anak yang lebih positif lagi, untuk mencari ilmu pengetahuan
dari ruang perpustakaan.